Ketika Mencintai Pernikahannya Namun Bukan Pasangannya, Saya Harus Bagaimana?
Pertanyaan:
Saya menikah karena dijodohkan oleh orang tua. Saat itu saya menerima karena tidak ingin mengecewakan keluarga. Namun setelah bertahun-tahun menjalani rumah tangga, saya merasa tidak pernah benar-benar mencintai pasangan saya. Hubungan kami berjalan baik-baik saja, tetapi terasa hambar, cinta tidak, benci tidak, rindu tidak, marah tidak, dllnya. Semua hanya sebatas menjalankan kewajiban. Apa yang seharusnya saya lakukan?
Jawaban:
Sebaiknya Anda Tidak Berimajinasi Seperti Sedang Menonton Film Drama
Perasaan seperti ini sebenarnya cukup sering dialami oleh pasangan yang menikah karena perjodohan maupun karena alasan lain di luar cinta.
Banyak orang mengira bahwa cinta harus hadir sebelum pernikahan, padahal dalam kenyataannya ada pasangan yang justru menemukan cinta setelah bertahun-tahun hidup bersama.
Karena itu, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa pernikahan Anda gagal hanya karena tidak merasakan perasaan yang sama.
Sebagaimana yang digambarkan dalam film drama dan cerita romantis (fiksi). Cobalah untuk membedakan antara tidak ada cinta dan hilangnya kedekatan emosional.
Cobalah melepaskan terlebih dahulu gambaran-gambaran ideal yang berasal dari film drama atau cerita romantis. Kehidupan rumah tangga bukanlah skenario yang ditulis untuk menghibur penonton.
Perkawinan itu sebuah perjalanan panjang yang dibangun dua orang manusia biasa dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Tidak sedikit pasangan yang sebenarnya memiliki rasa sayang, saling menghormati, dan peduli satu sama lain. Namun hubungan terasa datar karena komunikasi minim, rutinitas melelahkan atau kurangnya waktu berkualitas bersama.
Dalam kondisi seperti ini, yang perlu dibangun kembali bukan sekadar cinta, melainkan kedekatan dan keakraban sebagai pasangan. Anda juga perlu melakukan refleksi diri secara jujur.
Apakah selama ini serius memberi kesempatan diri sendiri untuk mengenal pasangan lebih dalam? Ataukah sejak awal Anda sudah menutup hati karena merasa pernikahan ini bukan pilihan Anda?
Kadang-kadang luka, kekecewaan, atau penolakan terhadap proses perjodohan membuat seseorang sulit melihat sisi baik pasangannya.
Meskipun sebenarnya pasangan tersebut sudah berusaha menjalankan perannya secara baik dan proporsional.
Jika pasangan berakhlak baik dan tanggung jawab, maka masih banyak ruang kosong untuk memperbaikinya.
Mulailah membangun komunikasi terbuka, aktivitas bersama, dan mengungkapkan kebutuhan tanpa saling menyalahkan.
Perasaan hangat sering kali tumbuh dari interaksi yang konsisten dan bukan muncul secara tiba-tiba.
Berbeda jika perasaan Anda sudah hampa, tertekan atau memiliki konflik batin berkepanjangan.
Sehingga membuat Anda sulit menjalani kehidupan sehari-hari maka tidak ada salahnya mencari bantuan melalui konseling perkawinan.
Melalui konseling, Anda akan diajak berfikir jernih, memahami akar persoalan dan mengevaluasi hubungan secara objektif.
Paling utama jangan mengambil keputusan besar ketika Anda sedang dikuasai emosi. Setelah pertimbangan yang matang barulah mengambil keputusan bijak.
Anda membutuhkan bantuan untuk mengatasi konflik rumah tangga, kecemburuan, atau luka akibat masa lalu pasangan? Konseling keluarga bersama Rica Irma Dhiyanti bisa menjadi solusinya.
Kami membantu Anda dan pasangan menemukan cara berkomunikasi yang lebih sehat, memulihkan kepercayaan, dan membangun kembali kedekatan dalam pernikahan.
Pendaftaran layanan konseling, coaching, training, dan mediasi silakan klik di sini: Daftar Online